[Art Review] Semangat Seniman Muda di Jet Coaster Global

Oleh: A.Sudjud Dartanto

Ialah anak muda disimpang batas milenium yang menjadi saksi tokoh hero Marvell Comic seperti Superman hingga bertebarnya ikon sosialis Che Guavara. Mereka ada saat playstation dan teknologi MP3 mewabah .

Kala band jenis pop, soul, grunge hingga musik elektronik menderu bersama kleningan dan gending irama tradisional di telinga mereka. Untuk seniman mudanya mereka kritis mengamati nyentriknya seniman pop art, Andi Warhol, kontroversi seniman Amerika, Basquiat hingga piruk pikuk obrolan soal identitas dan isu kebudayaan sekarang.Mosaik diatas banyak melatari lahirnya karya seni rupa dari seniman muda akhir 90-an Yogyakarta dan Bandung. Muda yang dimaksud adalah muda umurnya dan bisa pula dari gagasannya yang lain untuk saat ini. Sebagian mereka menawarkan gairah pencarian identitas, resistensi, komentar sikap dan pernyataan kritis apa saja yang berkelebat disekeliling mereka. Dan nyatanya saat ini mereka ada ditengah perdebatan konsep dan tafsir kebudayaan kontemporer. Tak ayal ini yang memicu riuh-rendahnya tema-tema karya mereka yang mengejutkan. Ikon dan fenomena inilah yang mereka bicarakan lewat bahasa visual.

Seperti banyak orang bilang kota ‘gudeg’, Yogya sering dikatakan daerah yang kaya oleh ragam jenis budaya dan kesenian. Ujung ke ujung, lengkap sudah, ibarat mall, apapun jenis seni visual ada disini, dari yang tradisional hingga yang ‘aneh-aneh’. Eksposisi seni visual dan performance art nyaris susul menyusul tiap minggunya. Di Bandung, kota metropolit yang dekat dengan ibukota Indonesia, Jakarta, juga demikian terkenal sebagai satu dinamika seni visual di Indonesia. Gerak-gerik seniman mudanya walhasil memberikan representasi lain. Dua daerah yang disebut dalam uraian ini justru melepas perbedaan, lebih melihat semangat bahasa eskpresi mereka yang tentu dipengaruhi oleh kultur masing-masing. Seniman muda dari dua daerah ini adalah aras yang berjalan seiring lalu lalang budaya melalui globalisasi.

Mereka yang diceritakan yaitu seniman muda yang aktif berkarya di akhir 90-an di babak akhir dan sesudah milenium awal dan menggelarnya di sejumlah ruang pamer. Baik di galeri, kampus dan alternative space seperti rumah kontrakan, kos dan lain-lain baik tunggal maupun berkelompok. Sangat banyak karya seni dari seniman muda berbakat yang menarik untuk ditengok baik dari Bandung dan Yogya, untuk itu tulisan ini seperti traveling dan kesan saya kala ‘membaca’ ‘potongan-potongan’ karya dan peristiwa seni visual para seniman muda Yogya dan Bandung.

Wajah karya seni mereka macam-macam ada yang berbentuk lukisan, grafis, patung, drawing, keramik, komik hingga kecenderungan melibatkan elemen gerak dan suara. Entah apa jenis gaya dan corak ekspresi karya mereka, yang jelas cukup kentara ekspresi yang muncul adalah pembacaan mereka atas isu kebudayaan masa kini. Bahan karya yang mereka kerjakan bervariasi, selain menggunakan medium yang sudah umum, seperti kanvas, tanah liat, sering juga melibatkan bahan yang sifatnya eksperimentatif, misal, tembok, bundel kertas, kardus, botol, karton dan lain-lain. Sementara teknik yang diterapkan punya kecenderungan dikerjakan secara alternatif, misalnya kolase, mix-media dan lain-lain.

Jalan-jalan ini dimulai dari Yogya. Suatu kali dibulan Agustus 2000, digelar pameran dengan judul panjang Lifeinwhat;Undernothing Story;King Oel;Legna; and Rupuz;Namobos;Where’s Rupuz;Maze Rupuz sebuah karya komik dinding Narpati Awangga (22). Karya ini memperlihatkan dunia imajinernya yaitu cerita seri tokoh khayalan yang campur aduk dengan cerita sehari-harinya. Hasil coretannya menampakkan gambar jalan yang saling berselingan, dan ditengahnya ada figur jenaka mirip robot-robot mekanik, lucu dan menggemaskan dan nampak pusing mencari jalan keluar. Warna komik dinding itu, meriah dengan hijau dan jingga, warna yang identik dengan disain pop sekarang.

Seniman muda asal Jakarta ini sengaja lembur dua minggu khusus untuk membuat karya komiknya di dinding seluas 1123 x 225 cm. ” Karya saya ini, seperti game, semua nama tokoh itu dekat dengan keseharian saya, seperti tokoh Nataz yang kalau dibalik Setan, atau Namaboz, kebalikan dari jalan di kontrakan saya Soboman,” ujar penggemar musik alternatif ini. Ini memang pameran tunggalnya yang pertama di Galeri Publik Apotik Komik, sebuah galeri yang hanya berbentuk dinding dipinggir jalan umum Yogya. Yang unik seniman yang saat ini tinggal di Yogya, rela hasil susah payahnya dihapus untuk digambar oleh seniman muda lainnya. Boleh jadi Angga sedih namun yang tak terlupakan adalah anak kecil yang kebetulan bernama Angga setia menemani Ia menggambar, memberi kue dan merengek agar komik dindingnya tidak boleh dihapus.

Angga satu dari banyak seniman lainnya yang kreatif menggelar karyanya seperti pada proyek seni visual oleh Eko Nugroho (23). Seniman muda asal Yogya ini, menggelar pameran seni rupa dengan bahasa komik ditempat tinggalnya. Dengan semangat Ia membuat poster, undangan dan ruangan dirumahnya yang di tata seperti ruang pamer karya seni. Banyak jumlah karyanya yang langsung dinikmati oleh warga sekitarnya. “Saya ingin meniadakan jarak antar pengunjung dan pembuat karya seni,” seperti yang diutarakannya. Walhasil, pameran yang bukan pertama kalinya ini menyita perhatian publik seni di sekitar rumahnya. Keunikannya yang lain, Ia menggarap bundel kompilasi komik Komik Daging Tumbuh yang berisi karya-karya seniman muda lainnya , berbeda dengan komik umum, ia membuat, mengendarkan dan menjualnya secara independen.

Kalau dilihat komik itu agaknya lebih mengutamakan eskpresinya, dan terlihat banyak tema-tema keseharian hingga carut marut panggung politik dan apa saja lainnya dikomikkan, seperti satu judul komik Komik Daging Tumbuh dalam edisi Presiden Vs Komik yang berisi 20 karya perupa yang tinggal di Yogya . Disana-sini banyak gambar produk industri, tokoh populer, bintang sepakbola, tokoh komik dan lain-lain. Satu karya dalam kompilasi komik milik Doni Blero (22) misalnya, bergambar tokoh Suparman (plesetan Superman) yang berteriak “Apakah kalian tidak tahu kalau saya ini Hero !”. Contoh seniman muda, baik Angga, Eko Nugroho dan Doni Blero adalah seniman muda yang bebas mengekspresikan apa saja. Dari Angga yang tanpa beban membuat komik dindingnya dari kisah sehari-harinya dan ide game, jenis permainan yang disukainya. Lalu apa yang dikerjakan Eko dan temanya Doni Blero yang bersemangat membuat komik independen menunjukkan bentuk kreasi lain yang menarik.

Kenyataan carut marutnya budaya dalam iklim global sekarang ditanggapi dengan kritis oleh Nano Warsono (24), seniman muda, asal Jepara Jawa Tengah ini yang piawai membuat karya drawing dan patung. “..dan manusia telah menciptakan alat-alat bodoh untuk mengatur hidup mereka..”, petikan ini ada di karya drawing komik Warsono. Bisa dibayangkan sikap seniman muda ini yang cemas oleh modernisasi yang menurutnya menggeser norma dan etika. “Saya ingin berbagi kesadaran lewat karya saya,” kata pengagum Sosrokartono, adik Kartini, tokoh pahlawan wanita Indonesia ini. Satu perhatiannya pada hal spritualitas nampak pada karya patungnya pada Manusia Dalam Manusia , karya dari bahan kayu itu nampak seperti botol dengan sayap dibelakangnya dan ditengahnya menyembul sosok wajah tenang seperti patung Budha. Komik seninya pada judul ‘Boeng Bangoen Boeng’, menyajikan cerita soal pencarian identitas yang tergambar banyak figur kepala dan kepalan tangan.

Pada aksen visual yang sama, karya Anto (24) menunjukkan representasi lain, pada karyanya di media hardboard cut, judul Survival adalah karya grafisnya yang mengagetkan. Soalnya selain ukurannya yang nyaris sama dengan daun pintu rumah besar, juga penggarapan figur dan simbol dalam grafisnya yang detail. ” saya sebenarnya ingin bikin cerpen, jadi karya ini kurang lebih juga adalah cerpen yang saya buat secara visual”. Dan memang nampak, dari atas hingga bawah, dan seluruh obyek dan figur yang ia gambar menunjukkan suatu jalinan cerita. Sama juga pada judul Kembali ke Hati , hampir semua karya seniman dari Pacitan, Jawa Timur ini adalah empatinya terhadap konflik sosial yang sering diperlihatkan oleh media massa. Dua perupa ini nampaknya menaruh perhatian pada masalah sosial. Inilah perupa muda yang memberi makna lain pada kebudayaan global masa kini.

Apa lagi yang komentar visual dari budaya global sekarang ini? tidak jauh, bisa dilihat pada karya Dipo Andi (24), perupa dari Sumbawa dan tinggal di Yogya ini karyanya cukup membuat ruangan hiruk pikuk oleh warna-warni dikanvasnya. “Apa yang saya lukis adalah tokoh-tokoh dan disain-disain terkenal,” tak aneh, bila bidang kanvasnya bertaburan oleh ikon yang saat ini populer, seperti Madonna, Megawati, tubuh seksi perempuan yang dicomotnya dari majalah Playboy. Warna-warni lukisannya sangat meriah mirip dengan citra pop karya Andi Warhol, seniman pop Amerika. Karya lukis Dipo Andi ini, seolah membenturkan antar ikon dari khazanah lokal ditubrukkan dengan ikon yang mengglobal.

Seperti apa visualitas dalam karya seni seniman muda di Bandung di era global saat ini? Ada fenomena dampak kemajuan teknologi yang direspon oleh Arin Dwihartanto (22), seniman asal Bandung, pada bidang kanvasnya. Di pamerannya berjudul Machine Head, tahun 2000 kemarin, menampilkan citra tubuh yang sudah lebur oleh mesin. Ada kesadaran Arin, saat melihat dampak teknologi yang semakin menciutkan arti tubuh. “Sejak kecil saya menggemari robot-robotan, film science fiction dan komik, saya tidak dibesarkan dengan permainan yang terbuat dari kulit jeruk, ‘gedebog’ pisang atau mainan-mainan sejenis”. Komentarnya bisa dianggap adalah latar budaya Arin yang berpengaruh pada konsep karyanya. Dalam bidang kanvasnya, Ia menggambarkan sketsa-sketsa dengan aksen mekanis yang berbaur dengan struktur anotomi manusia. Warna cerah kuat muncul dengan torehan kontur kuasnya yang tajam. Selain Arin ada juga seniman perempuan (muda) yang menaruh perhatian pada isu kebudayaan sekarang antara lain yaitu isu feminisme.

Hampir siapapun sering melihat tubuh perempuan dalam sehari-harinya sering dijadikan obyek eksploitasi dan komoditi iklan dan industri. ” Aku memang menaruh perhatian isu gender pada tubuh perempuan sekarang”, kata Wulandani (22), dari Bandung juga. Karyanya hadir mengagetkan pada judul this probably will not work, ia membuat tubuh perempuan dari bahan porselen mix media, diperutnya sengaja dibuat lobang yang isinya adalah boneka Barbie dan pernak-pernik lainnya ditubuh-tubuh yang lain. Di Yogya tema feminisme juga menjadi kegelisahan Endang Lestari (24), seniman kelahiran Aceh ini karyanya rata-rata berukuran tinggi, di sekujur keramiknya legam oleh glasir keramik. Pada judul Suara-Suara Perempuan , bentuknya kotak bervolume persegi, dan permukaan keramiknya nampak label-label teks dari komentar aktivis feminis dunia. Ia memang secara khusus memilih medium keramik sebagai bahasa ekspresinya. Tuntutan kesamaan gender dan masalah sosial yang menimpa perempuan agaknya menjadi fokus perhatian dari dua seniman ini.

Tak henti-hentinya serbuan propaganda iklan dan produk industri dalam kebudayaan global menjejali hidup sehari-hari anak muda. Sebuah pengakuan jujur diutarakan oleh Syagini Ratnawulan (22) dari Bandung, Ia tidak menolak kehadiran materi dari industri budaya populer sekarang ini. Saat ditanya siapa yang mempengaruhi nya dalam berkesenian, jawabnya ,”Johnny Rotten, Jean Boudrilard dan Joseph Beuys”, kata Cagi, nama panggilannya. Tiga tokoh yang ia sebutkan seperti mencerminkan siapa Cagi, “they are represented me,” katanya lebih lanjut. Kita mengenal Johnny Rotten adalah vokalis Sex Pistol, kelompok legendaris Punk yang meneriakkan anti kemapanan, sedang Jean Baudrillard adalah pemikir budaya postmodern dan Joseph Beuys, seniman yang terkenal dengan ungkapannya bahwa semua orang adalah seniman.

Pada judul Lust, ia menggelar instalasi tujuh buah botol kimia yang berisi mahluk hidup binatang kadal, kecoa, kalajengking, ulat dan semut. Ada juga karya lainnya dijudul To Repel Ghost, from Vapor of Gazeline, yaitu karya yang ia kutip dari judul karya Jean Michel Basquiat, seniman kontroversial dari Amerika, dimana karyanya menampakkan wajah tokoh sosialis Che Guavara. Lalu pada judul Paranoid nampak kotak kardus dengan label kuning bertulis Paranoid bertumpuk dengan latar mobil mewah baby benz, ” saat ini paraoid dijual “, katanya. Lepas dari apa maksudnya, karya Cagi, menampilkan tanda yang menurut ia ‘keren’ sekaligus punya makna luas baginya, “What You See is What You Get !,” ujarnya, untuk menjelaskan apa sebenarnya konsep umum karyanya. Dalam arus informasi dan industrialisasi saat ini, seniman muda ini seolah mempermainkan ikon-ikon, menikmatinya dan memperlihatkannya dengan ekspresi seni penuh kejutan.

Cukup banyak ekspresi yang muncul dari pembacaan mereka tentang realitas, contohnya Handi Hermansyah (22), perupa asal kudus yang tinggal di Bandung . Seniman muda berambut kribo ini rajin dalam meracik karyanya dari bahan kayu. Seperti anak kecil, dengan jenaka ia membentuk benda-benda fungsional. Ada yang membentuk tank, buaya, misalnya pada Terperangkap Umpan, karyanya ini mirip figur kalajengking. “Bikin mainan dari bambu memang kebiasaan saya dari kecil,” begitu katanya. Rata-rata karyanya terbuat dari bambu yang diikat oleh rotan. Secara kreatif ia juga menggunakan bahan resin untuk membuat model-model karya lainnya. Inilah karyanya yang menurut saya cukup mengagetkan yaitu, seringnya bentuk phallus yang dimodifikasi menjadi benda fungsi. Misal, pada bentuk pesawat terbang yang moncongnya diganti dengan phallus. Kesenangannya adalah membuat efek-efek makna. Ia terpesona oleh pemikiran tentang tanda.

Semangat membebaskan spesifikasi medium dan penjelajahan tema seperti mewarnai hampir semua karya para senimam muda ini . Bisa jadi pertunjukan musik, seni visual, video art, dan performance art digabung seperti yang dilakukan oleh kelompok Performance Factory dari Yogya yang kerapkali menyuguhkan karya mengejutkan. Misal pada satu pertunjukkanya pada judul Sorry, I’m Fuckin’ Sorry, menyajikan satu kejutan bagi penonton yaitu satu tubuh anggotanya disetrum dengan listrik berkekuatan 100 Volt. Kelompok multimedia lain dari Yogya adalah Geber Modus Operandi dari Yogya juga, sudah dua karyanya yang terakhir pada Mysthical Machine dan Hole menyuguhkan karya seni yang memakai unsur musik, rupa, gerak tubuh, audio dan video.

Karya seni senimam muda baik dari Yogya dan Bandung ini ibarat manifesto sikap dan pernyataan mereka dalam ‘membaca’ kebudayaan masa kini, dengan kenyataan memudarnya batas, jarak oleh teknologi Informasi dan seliweran kebudayaan dimana-mana . Mereka seniman muda ini seperti ‘merayakan’ tanda-tanda kebudayaan sekarang. Pada iklim global sekarang ini, silih bergantinya ikon, tokoh, produk industri, jenis tayangan TV, fesyen, melesat cepat bagai jet coaster. Karya mereka seperti juga melesat dengan tema-tema aktual, perkembangan teknik, dan silih bergantinya sikap dan komentar mereka atas kenyataan budaya global yang menjadi keseharian di dua daerah itu, Yogya dan Bandung. Seniman muda ini bagai ikut dalam irama percepatan global. Seperti jet coaster yang dalam percepatannya menimbulkan histeria, ironi, dalam riuh rendah pernyataan. Inilah mereka yang merayakan perbedaan, pernyataan dalam zona estetik oleh seniman muda dalam budaya global sekarang ini.

Advertisements

About this entry