[Film Review]Everything is Illuminated: Kisah Melampaui Luka

Sebuah film yang diangkat dari novel “Jonathan Safran Foer

Oleh: A.Sudjud Dartanto

“Culture comes through language”, kata Gayatri Spivak pada suatu ceramahnya di Yogyakarta. Walaupun refleksi tokoh yang kerap disebut-sebut juru bicara poskolonial ini tidak sepenuhnya baru, akan tetapi pendapat itu relevan untuk memahami ruang dan tempat yang sedang mengalami proses menjadinya cara pandang. Budaya, dengan demikian, tidak lain adalah “cara pandang”. Dan Spivak seperti ingin mengajak kita berpikir kritis akan hubungan suatu cara pandang pada kehidupan nyata kita.

Pada bahasa sehari-hari, tidak ada beda antara budaya (cara pandang) dengan huruf “B” besar dan “b” kecil”. Bahasa sehari-hari menjadi arena bertemunya pelbagai aras pandang. Dan cara pandang datang dari sebuah asal-usul “ide”—lokus di mana ide itu dirawat, dibesarkan, diawetkan, di ‘puja’ dan bahkan menjadi taruhan hidup-mati. Namun seperti yang sejarah perlihatkan, suatu cara pandang bukanlah entitas yang pasti dan tetap, cara pandang senantiasa berubah (becoming). Dengan demikian, suatu cara pandang dari sebuah letak dan kelompok sulit untuk diringkus dalam satu pengertian tunggal yang semena-mena.

Ada dua hal: kemajemukan cara pandang itu, pertama: sama-sama menggunakan “bahasa”. Dan kedua, “sejarah” menjadi tempat berlangsungnya proses perubahan cara pandang itu.

Hanya saja, proses perubahan itu selalu menjadi kisah perebutan cara pandang mana yang di anggap ‘paling sahih’. Demikian pula bahasa, ia menjadi situs yang diperebutkan untuk menyatakan suatu ide tertentulah yang paling benar. Klaim kebenaran seperti harus tampil dengan mengatasi cara pandang-cara pandang yang lain. Bentuk dominasi itu selain tampil sebagai kisah pendudukan cara pandang dan selera, juga melalui kekerasan tubuh. Warisan dominasi ini seperti mengamini sebuah dalil kekal: yaitu kekerasan selalu menyisakan trauma. Dan trauma menimbulkan praktik pembatinan pada diri seseorang, dan kelak pada suatu masa, trauma ini akan: pecah dan menjerit.

Ia pecah justru oleh suatu sebab yang kerap “dianggap” sepele yaitu karena simbol. Dulu simbol itu adalah sesuatu yang begitu intim dan akrab, bahkan orang bersedia mati dan hidup demi simbol itu. Kemudian hanya karena suatu konflik cara pandang, simbol itu lalu menjadi sesuatu yang asing dengan kecendurungan melenyapkan simbol itu dari ingatan. Mengapa? Sebab simbol itu tak lain adalah “lambang” peristiwa menyakitkan, yaitu pengalaman traumatis itu sendiri.

Film ini menujukkan sebuah kisah tentang pengalaman traumatis dengan sebab yang begitu kompleks. Film ini seperti memberi pesan bahwa kesadaran individu bukanlah kesadaran yang terjadi secara alamiah (taken for granted) dan terberi (given). Akan tetapi kesadaran individu tak lepas dari suatu produk cara pandang juga hasil proses sejarah. Ada tiga sosok sentral dari film ini yang menjadi wakil dari tiga lokus generasi yang memiliki cara pandang berbeda terhadap peristiwa genosida Nazi Jerman yang terjadi pada satu desa di Ukrania.

Kakek dan Nenek dalam film ini adalah seorang survivor, yang selamat dan merasakan langsung ‘ide genosida’ Nazi Jerman: mencopot nyawa satu desa Yahudi di Ukraina dengan cara menyayat psikis mereka terlebih dahulu. Lalu tewas oleh timah panas dengan seruan salvo yang terlatih. Pengalaman traumatis itu menimbulkan luka mendalam pada diri orang tua itu.

Kakek itu misalnya, berupaya mengosongkan sama sekali ingatan bahwa dirinya adalah seorang Yahudi. Bahkan Ia merasa tak perlu mewartakan “kebenaran identitas”nya pada anak-cucunya tentang perihal genealogianya ini. Ia seperti jijik dengan identitas keyahudiannya. Menyesal menjadi seorang Yahudi. Walhasil anak-cucunya lahir lepas dan lolos dari ingatan genealogia ini. Anak-cucu kakek ini lahir dengan cara pandang yang berbeda dengan sang Kakek.

Sosok sentral kedua adalah pemuda gaul, cucu kakek itu tidak pernah mengerti mengapa kakeknya sering mengigau, juga kerap meracau . Tidak saja dalam mimpi, juga kala sadar. Pemuda itu punya cara pandang berbalik dengan sang-kakek—dalam kekosongannya ingatannya akan masa lalu, kesadaran pemuda itu hanya ingin menjadi ahli joget hip-hop, raja pesta dengan banyak perempuan yang ingin kencan dengannya. Pemuda itu mewakili mimpi kebanyakan pemuda Ukraina pada dunia gemerlap Amerika.

Dikisahkan, sang Kakek bahkan ikut-ikutan melaknat Yahudi pada sosok remaja yang datang dari Amerika, yang notabene dirinya adalah juga Yahudi. Ada yang kontras, cucu kakek adalah pemuda gaul, sementara remaja Amerika itu cenderung konservatif, jauh dari gambaran kehidupan gemerlap yang dibayangkan oleh cucu sang Kakek itu. Remaja itu adalah sosok ketiga dalam film ini yang datang ke Ukraina untuk melacak kebenaran asal-usul keluarganya.

Ada proses “denial”, yakni penyangkalan diri bahwa sang Kakek sesungguhnya adalah juga Yahudi. Namun, Kakek ini tidak kuasa menceritakan pengalaman traumatis ini. Sampai suatu ketika identitas sang Kakek terkuak ketika Nenek—yang juga saksi hidup atas dirinya yang lolos dari senapan laskar Nazi itu, bercerita detail tentang dasyatnya sepak terjang ide bernama Nazisme.

Nenek itu menuturkan pengalaman pahit itu dengan getir, bercerita dengan mata dan mulut lirih dan berkaca-kaca di depan Kakek, Pemuda dan Remaja ini. Luka itu diceritakan tepat dihadapan segi empat monumen bisu penanda peritiwa itu. Semua gentar. Namun nampak, ada keberanian di situ untuk bertahan menatap monumen dan mengingat dan mendengarkan kisah Nenek.

Nenek bercerita, semua laki-laki Yahudi dikumpulkan, sebelum dibunuh, mereka dipaksa untuk menistakan keyahudian mereka dengan cara meludahi Torah dibawah ancaman moncong senapan persis dimuka anak dan istri mereka. Kini jelas, siapa kedua orang tua itu. Mereka adalah Yahudi yang lolos dari pembantaian massal saat itu. Nenek itu ada pada peristiwa pilu itu, dan ia mengumpulkan setiap benda memorabilia pada tubuh korban.

Remaja Amerika itu seperti dibingungkan oleh sejarah mana yang benar. Walaupun ia bisa saja hidup dengan kesadaran yang kini, dan memutus memori masa lalunya, tetapi, seperti ada gejolak dasariah dalam dirinya, yaitu: masa laluku seperti memanggil diriku untuk mengambil sikap, sebab itu menentukan masa depanku.

Pada saat perpisahannya dengan Kakek, Pemuda gaul dan Remaja itu, sang Nenek tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda. Yakni cincin pernikahan yang ia ambil dari balik tanah, milik adik perempuannya yang terbunuh. Sebuah cincin yang sengaja dikubur adiknya sebelum hari keji itu tiba. Nenek bertanya dengan mata menerawang, “Mengapa cincin itu dikubur, untuk apa?”
“Agar ada bukti bahwa ia pernah ada”, jawab Remaja Amerika itu.
“Tidak, kurasa tidak”, jawab Nenek.
“Cincin itu bukan ada untuk kalian”.
“Kalian ada karena cincin itu”.
“Kalian telah datang, karena cincin itu ada”

Film ini adalah kisah manusia yang ingin melampaui luka. Film ini menyelipkan pelajaran penting bagaimana kita memandang trauma. Yaitu dengan cara membicarakan dan memberi arti pada masa lalu untuk masa depan.

Sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana pertikaian, permusuhan, kebencian sesungguhnya diawali oleh retaknya kepercayaan. Dari trust, menjadi loss. Kepercayaan yang dikhianati mengakibatkan rasa kehilangan yang sangat, dan kelak menjadi bibit traumatis yang tak jenak seumur hidup.

Di sebuah toilet lusuh, kakek itu terbujur dalam rendaman air bercampur darah kental yang mengalir deras dari nadi kedua tangannya. Terlalu berat beban yang dipikul, hidupnya dihantui rasa bersalah takberkesudahan dan berkepanjangan. Ia telah membohongi keluarganya tentang siapa dirinya. Ia memilih mengakhiri hidupnya.

Sebaliknya, pemuda gaul itu menjadikan momen mengharukan itu sebagai sebuah “illumination”, pencerahan, penerangan bagi hidupnya. Di pesawat yang membawanya kembali ke Amerika, nampak raut wajah remaja itu jauh lebih tenang dibanding sebelum ia datang ke Ukraina. Sorot mata remaja itu, seperti menoreh sebuah pesan: never again ! Jangan lagi ada genosida yang bersumber pada ide yang cupat.

Remaja, Pemuda, sang Kakek dan Nenek itu berani “to confront with the past”. Menatap jejak dan goresan luka itu yang disimbolkan pada segi-empat monumen bisu di desa itu. Film ini merefleksikan kisah luka dibalik “bahasa sang-pemenang”. Kisah dunia dibalik “sejarah pemenang”. Kita bertanya-tanya. Mengapa bahasa menjadikan suatu cara pandang bisa berbeda-beda ?

Apakah kita sepenuhnya bisa memahami “Yang Lain”. Setidaknya dalam cerita film ini, memahami Yang Lain adalah hal yang tak mungkin, bahkan pretensi untuk memahami, seperti memiliki kehendak untuk menguasai Yang Lain. Padahal setiap diri yang berupaya memahami Yang Lain, dirinya juga tak lepas dari upaya cara pandang Yang-Lain. Kira-kira demikian dan seterusnya. Pesan film ini seperti sebuah ajaran akan pentingnya sikap belajar dari Yang Lain. Justru dengan sebab nyata yang sering dilupakan bahwa: suatu cara pandang (bahasa) telah ada sebelum kita lahir.

Film ini mengisahkan sisi kelam dari ide bernama Nazisme. Hitler mengganggap ide itu adalah yang terbaik, sebab itu cara pandang Yang Lain harus ditaklukkan. Dalam cara pandang Hitler: ide diluar paham Nazi adalah ancaman, dan sebab ide bermukim pada tubuh, maka tubuh juga harus musnah. Ini bukan fiksi. Dalam sejarah kemanusiaan, ide gila ini pernah terjadi, berkobar hebat, dengan tumbal jutaan orang tewas.

Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Bulletin “Kinoki”

Advertisements

About this entry