[Art Review]Yoko Ono : Tentang Fluxus, Postpunk dan bukan lennon

Tulisan ini pernah diterbitkan di newsletter Yayasan Seni Cemeti

Oleh: A. Sudjud Dartanto

Tidak banyak catatan tentang Yoko Ono dalam literatur seni rupa Indonesia. Padahal dia adalah salah satu aktivis gerakan fluxus di Amerika Serikat.

Sebagaimana Madonna, Britney Spiers dan selebritis Hollywood lainnya, Yoko Ono kerap dijadikan mangsa pers Amerika. Tapi sejatinya Yoko Ono tak hanya seorang selebritis, tapi dia juga seorang seniman garda depan pada tahun 60-an. Tahun lalu Yoko Ono menerima Honorary Doctorate of Laws from Liverpool University atas kerja seni dan kepemimpinanya di the John Lennon Memorial Scholarship Fund. Setahun sebelumnya pada Oktober 2000, Yoko menggelar karya terbesarnya dengan tema YES di Japan Society Gallery in New York. Dalam pameran retrospeksi ini Yoko sempat berujar: “many negative elements in my life that I have tried to activate the positive element. Yes is an expression I’ve always carried and will continue to carry. My spirit is an outsider, perhaps because I am Asian and a woman as well. There is an organic element in my work that is not easy to understand. My work is just part of my soul, but there’s no linear presentation of it.

Yoko ditengah Fluxus

Fluxus adalah sebuah gerakan avant-garde radikal yang muncul di Jerman tahun 60-an yang kemudian merebak ke daratan Eropa dan Amerika Serikat. Fluxus menentang terpisahnya seni dan masyarakat, juga resisten terhadap pakem fine arts. Yono Ono adalah salah satu aktivis Fluxus di AS. Pemikiran dan aksi seninya radikal yang sangat tipikal seniman garda depan. “I thought avant-garde world in New York was still very exciting but that it was starting to become an institution in itself, and there were rules and regulations in an invisible way, and I just wanted to get out of it. I never considered myself a member of any group. I was just doing my own thing, and I’m sure that most artists I knew in those days felt the same.”

Lihatlah aksinya pada karya performance art bertajuk ‘cut piece’ pada 1964. Ia meminta pengunjung untuk menggunting satu demi satu pakaian yang dikenakannya. Pada karyanya yang lain, ‘This Is Not Here’, Yoko Ono meminta pengunjung melengkapi perabot di sebuah ruang pamer untuk untuk menyelesaikan display awal yang ia lakukan pada awal 70-an. Pengamat Fluxus, Michael Bracewell berkomentar, “Fluxus offered a creative home to artists such as Yoko who wanted to make conceptual or minimalist statements about the mysticism of art and existence. Fluxus, for Yoko, was an accidentally acquired creative environment in which she could rehearse her notions of nature and feminism. Prophetically, in Wall Piece For Orchestra (1962) she knelt on a stage and repeatedly banged her head upon the floor.”

Postpunk, Energi Kreatif Yoko

Tidak hanya Yoko saja dalam gerakan ini, ada Joseph Beuys, Num Jumpaik, George Brecht an lain-lain. Secara fenomenal gerakan yang bermula dari Jerman ini cepat menyebar ke penjuru New York, kota-kota eropa utara, dan juga terjadi secara independen di Jepang dan California.

Tahun 60-an ditandai dengan merebaknya musik postpunk. Termasuk, Yoko Ono pun tergerak membuat musik eksperimental akibat pengaruh band B-52, dan Talking Head saat itu. Jiwanya yang bebas nyaris menyamakan berbagai sumber referensi untuk kreatifitas keseniannya, mulai dari Salvador Dali, Van Gogh, Andi Warhol, tokoh Dada hingga band postpunk saat itu Public Image Limited. Tema karyanya bergerak dari ekspresi personal hingga karya yang merupakan dukungannya pada women liberation. Greged berkeseniannya juga merambah film eksperimental.

Yoko lahir di Tokyo, Jepang, pada 18 Februari 1933. Ia sulung dari 3 bersaudara yang melalui masa kecilnya selama dua tahun tanpa ayahnya. Seperti umumnya remaja saat itu, Yoko menamatkan kuliahnya sebagai sarjana filsafat di Tokyo’s Gakushuin University dan ilmu filsafat dan musik di Sarah Lawrence College, New York. Sosok Yoko kecil juga menjadi saksi peristiwa sejarah hitam 1945 yaitu aksi genocide yang melumat pulau Hiroshima dan Nagasaki oleh bom atom Amerika. Pada saat itu ayahnya, seorang bankir sukses mengungsikan Yoko ke New York. Di kota inilah kemudian Yoko menceburkan dirinya ke dalam dunia seni, sebuah dunia yang membebaskan pendapat dan pemikirannya.

Dalam perkembangan kesenimananya menyiratkan bahwa seni bagi Yoko adalah gagasan, sebuah prinsip yang selaras dengan semangat gerakan Fluxus: medium bukan hal yang penting dan utama. Tak, aneh apabila gagasannya ia ritualkan pada musik, teater, performance art dan film. Semangat eksperimental Yoko demikian kental pada masa awal karirnya sebagai seniman. Yoko Ono banyak membuat film dokumenter dan seni bersama suami keduanya, sutradara film Anthony Cox. Ia membuat film eksperimen pertamanya berjudul ‘No. 1 a.k.a. A Walk To Taj Mahal’.pada 1964 yang mendobrak konsep flim konvesional dengan cara memindahkan viewpoint kameramen ke publik.

Lennon bagi Yoko

Yoko Ono memang sulit dipisahkan dari nama musisi legendaries The Beattles, John Lennon. Yoko bertemu John Lennon pada sebuah pembukaan pameran tunggalnya di avant-garde art show di London pada 1966. Bagi Yoko, Lennon adalah seorang seniman sebelum ia menjadi bintang musik rock. “He was an art student. So we were both very rounded artists in a sense. (The moving into one another’s spheres) got very exciting. But he was a very offbeat kind of artist to begin with. He had that sense.” Kisah asmara Yoko-John membawa mereka ke altar perkawinan dan sekaligus mengakhiri rumah tangga Yoko dengan Tony Cox. Menurut biographi.com, Tony Cox membawa lari anak Yoko.

Yoko adalalah seniman yang dibelit tiga simpul, yakni Fluxus, Postpunk dan Lennon. Fluxus sebagai gerakan ideologis yang menentang kemapanan seni rupa modern yaitu fine arts, adalah latar dari karya seni Yoko yang seringkali melibatkan peran aktif publik khususnya pada karya performance art-nya. Semangat ini tidak lepas dari keprihatinan pendukung Fluxus oleh karena semakin memiuhnya jarak karya seni dan masyarakat. Ada pesan yang mengena dari Yoko dalam wawancaranya kepada majalah Rolling Stones tahun 1997, “I don’t think that people should follow my footsteps. I really think if they can get some energy and inspiration out of my work, I’m very happy.”

Di sisi lain Yoko terpengaruh oleh bunyi-bunyi dari band postpunk saat itu. Dan sosok Lennon, seperti menggenapi karir kesenimanan Yoko, banyak eksperimen kreatif yang ia lakukan dengan Lennon. Seperti film kolaborasinya dengan Lennon, ‘Smile’, sebuah film yang menarasikan gerakan lambat fotografi. Namun publik lebih melihat sosok bertubuh kecil, kulit kuning, rambut hitam panjang, dan wajah dingin Yoko Ono di bawah baying-bayang nama besar John lennon. Padahal Yoko sudah menjadi seniman penting sebelum dan saat bersama Lennon.

Advertisements

About this entry