[Art Review]Seni Rupa Rumah Kontrakan : Ruang Pamer Alternatif

Pameran Ruang per Ruang
Don’t Try This at Home
3 Mei-3 Juni 2002
Desa Soboman, Ngestisharjo Yogyakarta

Oleh: A.Sudjud Dartanto

Sejumlah perupa muda memunculkan gagasan alternatif dalam merespon tempat tinggal sendiri sebagai ruang pamer. Ia tidak lagi berada pada ‘ruang sakral’ galeri atau meseum. Karya-karya mereka justru berada di tengah kampung Soboman, Ngetisharjo Kasihan Bantul.

Desa Nitripayan dan dusun-dusun sekitarnya nampaknya kerap di kenal sebagai desa seniman. Perupa-perupa muda antara lain memilih daerah ini untuk aktivitas berkarya, sebuah desa dengan suasana yang ‘ndeso’, ada sawah, ladang dan lengkap dengan lika-liku jalan-jalan kecilnya. Pameran yang berlangsung di rumah kontrakan tiga perupa muda : Narpati Awangga (Jakarta), I Made Aswino Aji (Bali) dan Georgia Sedwick (Australia) menjadi bukti hidupnya atmosfir kesenian di Soboman. Pembukaan pamerannya berlangsung menarik, jalanan yang biasanya senyap, tiba-tiba malam itu, tamu, rekan dan penduduk sekitar berdatangan menyusuri ruang per ruang di rumah kontrakan itu, sulit membedakan apakah itu rumah kontrakan atau ruang pamer lagi.

Dari karya-karya yang dipamerkan, umumnya merekaj mempraktekkan karya seni rupa dengan kecenderungan mixmedia, multimedia dan lintas genre (fotografi, lukisan, drawing, grafis, video art, seni komputer, seni bunyi). Jelasnya, pameran ini memang bertujuan apresiasi. Tidak ada penunggu tamu, kalau beruntung kita akan disambut “tuan rumah”nya yang siap menjamu, seperti kebiasan tuan rumah menerima tamu. Pameran langka ini diikuti 13 perupa muda yang sebagian besar dari seni rupa ISI, perupa dari UGM dan Australia. Rutenya memang mengikuti konstruksi ruang sebuah rumah, bermula dari pagar tanaman dan bambu, ada dua lampion dari pembungkus ternak babi di teras depan rumah, karya ini milik I Made Aswino Aji berjudul “Sebuah Awal 1” (mixmedia, 2002) , menarik bila diamati malam hari, sebuah efek lampu didalamnya memancarkan siluet cetak bocah-bocah kecil tetangganya. Karya ini berhasil memancing respon dari bocah-bocah tetangga yang senang fotonya dipajang.

Aji sepertinya mengeksplorasi wadah Babi, kaleng-kaleng di ruang tengah dengan potret anak kecil, kita bisa mengembangkan makna dari karya Aji ini. Sementara tembok teras depan, tak urung dilalap oleh corat-coret (drawing) dari para pengunjung, disitu ada tulisan “Write Your Comments and Impressions Bellow”, pengunjung bisa dengan bebas mencorat-coret pesan dan kesan. Memasuki ruang tengah, terlihat rak buku, meja, kursi dan atribut rumah lainnya. Sekilas kita sulit membedakan mana karya seni dan bukan, untungnya kita ditolong oleh caption karya sebagai penanda karya seninya, seperti karya milik Georgia, dalam “Dibuang Sayang” (fotografi mix media,2002), berupa deretan foto diri dan foto rekan-rekannya dalam kaleng-kaleng. Sosok Angki dan dua rekannya dalam karya Georgia nampaknya menjadi terbelenggu di dalam botol-botol itu. Kalau kita mendongak tampak lembaran dilangit-langit ruang tamu, sebuah bentangan plastik dengan drawing naïf milik Narpati Awangga berjudul “Days Enemy 1”(mixmedia,2002). Angga, begitu ia dipanggil memang dikenal, perupa yang mengeksplorasi bahasa permainan, bila dihubungkan dengan judul karyanya, karya ini seperti sebuah seri permainan.

Sementara pada temboknya tampak membujur vertikal karya Georgia berupa deretan vertikal foto-foto temannya dalam “Room to Move” (fotografi,2002). Karya ini dan juga karyanya di ruang tengah, menampilkan eksplorasi foto-foto, dari cara menyusunnya potret-potret yang ada nampak seperti wayang tapi dalam bentuk yang modern. Latar karyanya berwarna merah untuk membedakan tembok rumah yang dominan berwarna putih. Pada tembok yang berhadapan nampak pula karya Roni dalam “Ruang Tersembunyi “ (foto mixmedia,2002).

Eksplorasi bentuk terasa pada karyanya, permainan komposisi warna dan material yang digabung dengan foto. Diantara dua kursi tamu kita harus jeli karena diekat akuarium ada karya Rangga Purbaya yang mengeksplorasi subjek matter anjing bernama Dalbo, binatang kesayangan penghuni rumah berjudul “Lovely Rambo” (fotografi mix media,2002), karya berbentuk kolase foto. Berikutnya ada kamar yang berisi karya milik Arya Panjalu, berjudul “Accu” (mixmedia,2002), puluhan foto diri Arya terbingkai dan terhubung dengan aki diatas rak buku. Karya ini merautkan sebuah protret tegang, dan berhubungan dengan aki sebagai simbol energi.

Selanjutnya kita akan melewati ruang perantara tengah dan ruang belakang, tepat dibatas ruang ini, bunyi anjing segera menyalak atau bunyi-bunyi dijital lainnya, sebuah karya multimedia milik bunyi Arif Wicaksono (Ucok) “Play That Fungky Music” (Multimedia,2002) . Syarat agar berbunyi adalah sesorang harus menginjak sensor kaki dan memencet dua bidang segiempat di kiri kanannya. Siapa saja dapat merasakan interaksi dengan karya Ucok ini. Ruang berikutnya adalah ruang belakang, melihat atribut didalamnya menampakkan sebuah ruang makan dan kamar mandi. Dimeja makan kaca terlihat seperangkat komputer, sebuah karya Video Art milik F. Tejo Baskoro berjudul “Cuci Tangan Sebelum Makan”,(Multimedia,2002).

Sebuah tayangan video art berdurasi 3 jam 30 menit, yang merupakan ekolorasi Tedjo pada kegiatan orang membersihkan tangan, metafora ini punya asosiasi pada kecenderungan orang yang lepas tanggung jawab. Perhatikan juga sebuah lemari es yang bertuliskan teks-teks di ‘sekujur badan’ lemari es itu, sebuah karya seni konseptual milik Nuraini Juliastuti berjudul “Monggo Mampir, Bu” (Mixmedia,2002). Bila Anda kekamar mandi akan terlihat bak mandi yang tertempeli oleh foto-foto karya dari Angki Purbandono, berjudul “I’ll be Watching You”(Fotography, 2002), puluhan mata nampak melotot mengadap keatas.

Sementara bila kita berjalan ke halaman belakang akan nampak petak demi petak halaman yang dengan jeli dimanfaatkan sebagai tempat karya instalasi. Misalnya nampak botol-botol sofrdrink bekas dengan kitiran kertas yang diselipkan yang bila diterpa angin memutar, sebuah karya milik Samuel Indratma mengesankan adanya interaksi dengan alam terasa pada karya ini, kita kemudian teringat pada permainan anak kecil. Olahan instalasi sculptural nampak diletakkan diatas tanah berbentuk kurungan milik I Made Dalbo Suarimbawa dalam “Pencapaian” (mixmedia,2002). Karyanya juga tampak pada sekujur batang pohon nangka yang mencuatkan potongan tangan dan kaki milik I Made Dalbo Suarimbawa. Karya ini menarik, seolah terjadi personifikasi pohon yang mempunyai tangan, kaki dan wajah.

Setelah halaman, ada sebuah rumah yang melihat kondisinya nampaknya tak terurus dan tidak dihuni, rumah dengan material kayu, bambu ini mendapat respon dari I Bagus Wiradnyana,. Sebuah karya yang bergelantungan diatas kepala, berjudul “Hidup Mati/Mati Hidup”(mixmedia,2002). Bagus memanfaatkan serpong bekas dan dipasang figur anatomi manusia, bila tersentuh angin, karya ini mendenting. Ia juga membuat instalasi dibillik rumah bambu, nampak peci, pakaian putih dan celanan hitam dan terlihat ada bingkai yang menjuntaikan tangan dan kaki. Karya instalasi ini bernuansa magis, karena ada sentir di atas cowek.

Rumah kontrakan Soboman ini, seolah mencampur makna rumah sebagai ruang privat dengan ruang pamer (publik). Pengunjung dengan motivasi mengapresiasi dipersilahkan keluar masuk dalam ruang-ruang ini. Sebuah rumah kontrakan sebagai ruang pamer acapkali terjadi di daerah ini. Dulu dua perupa muda, Arya Panjalu dan Aris Manyul pernah juga menjadikan rumah kontrakannya sebagai ruang pamer di daerah Bugisan. Perupa senior, Hedi Haryanto bahkan pernah membungkus total rumah kontrakannya dengan dus-dus bekas (cardboard boxes) produk industri modern dalam Binal Experimental Art tahun 1992 pada karyanya berjudul “Terror product”. Patut mendapat sambutan, oleh karena motivasi penggagas ini berupaya untuk melakukan kontak komunikasi dengan masyarakat lebih dekat. Seni rupa rumah kontrakan bisa menjadi alternatif dari sempitnya peluang perupa untuk berpameran di galeri-galeri mainstream.Tema pameran “Don’t Try This At Home”, nampaknya justru kebalikan dari apa yang terjadi rumah kontrakan ini, judul ini seolah juga menantang siapa saja untuk melakukan hal serupa, berminat mencoba?

Yogyakarta, 20 Mei 2002

Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam bahasa Inggris di Harian Umum Jakarta Post.

Advertisements

About this entry