[Art Review]Perihal Rupa Puisi Rupa I Made Wiyanta : Rupa Seni Rupa kita?

Oleh: A. Sudjud Dartanto

Pelukis Bali ini memamerkan gelontoran teks dan objek yang diriakkan aksara-aksara. Saut Situmorang mengistilahkannya sebagai puisi rupa. Tidak terlalu baru sebagai gejala perupaan, namun tak pelak kita tergoda oleh provokasinya.

Halaman Bentara Budaya Yogyakarta sesak oleh pengunjung. Maklum saja, malam itu berkaitan dengan ulang tahun Bentara Budaya, dalam tajuk “Urip Mung Mampir Ngombe”, tanggal 26 sampai 29 September 2002 lalu. Memang pada tangal itu giliran I Made Wiyanta yang berpameran tunggal. Sebelumnya dibuka oleh penyair Yogyakarta, Wani Darmawan, ia melisankan puisi-puisi I Made Wiyanta dengan ekspresif. Sesudahnya, kelompok musik dangdut arahan Djaduk Ferianto menghibur penonton sekaligus mengocok perut penonton sambil berjoget. Disamping hiruk pikuk kendaran bermotor, hajatan malam itu memang menyedot perhatian.

Dinding ruang pamer Bentara Budaya di barisi oleh pelbagai kertas dan objek-objek apa saja : robekan kertas dari majalah, poster, kertas toilet, tiket bis dan lain-lain. Di sebelah timur terjuntai dua gulungan panjang puisi yang tertorehkan. Kita boleh nyinyir, betapa serius dan capeknya membuat rangkaian kata-kata sepanjang itu. Demikian pula nampak objek instalasi di tengah ruang pamer, ada beberapa tongkat golf dan BH yang tak luput tertorehkan oleh puisi-puisinya. I Made Wiyanta memang cukup serius dalam hal perpuisian, hingga sekarang sebagaimana dicatat oleh penyair dan penulis katalogus pameran, Saut Situmorang bahwa puisi yang dibuat Wiyanta sudah berjumlah 600 sejak tahun 1979 dengan dua buku puisinya berjudul “Korek Api Membakar Lemari Es” (1996) dan “2 ½ menit” (2000). Selain itu, Wiyanta juga seorang pelukis senior Indonesia. Yang menarik adalah pada kekaryaanya adalah perihal teks dan rupa, atau teks dan visual. Pamerannya lantas mengundang Kita untuk berpikir dan muncul pelbagai pertanyaan, misalnya: bagaimana kita mengunyah jenis karya seperti ini?

Puisi-puisi itu terasa melelahkan untuk diikuti, bukan hanya panjang akan tetapi juga tertulis oleh tangan yang dominan, kadang-kadang kabur tak terbaca. Namun bila kita mengambil jarak pandang mata yang cukup, akan nampak-paling tidak mata artistiknya : sebuah panorama rupa yang lain-dengan mengindahkan ketepatan bacanya. Tidak mengherankan sebenarnya fenomena teks di wadag visual. Baik pada lukisan, torehan grafis, patung hingga genre instalasi dan new media. Persoalannya mungkin lebih pada bagaimana kita mengapreasiasinya. Disisi lain, kita bisa mengamini, bukankah teks itu sendiri merupakan wajah visual sesungguhnya? Bila demikian apa bedanya, dan perlukah kita melihat hal ini sebagai hal penting atau lebih baik dilalui saja? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab tuntas, namun lebih sebagai keinginan untuk membuka “misteri” perupaan karya Wiyanta ini.

Karya perupa Bali yang pernah membuat puisi rupa sepanjang 2000 meter dalam performance art “Art and Peace”, 10 Desember 1999 silam di Bali, memunculkan paling tidak- dua pengucapan : teks dan rupa, ada paradoks di sini : bila teks-teks itu kita satukan saja dalam term visual, rasanya tidak seimbang. Karena huruf atau kata-kata ini seperti menyusun makna semantiknya sendiri. Sementara segi visualitasnya pun demikian, tersusun oleh pertimbangan komposisi, bidang, warna, dan lain sebagainya. Kita bisa membayangkan bila dua pengucapan itu serentak hadir, apa yang dilahirkan? Ini menarik untuk dipercakapkan. Tulisan Budayawan, Sindhunata dan Saut Situmorang, para penulis di katalogus pameran ini menarik untuk kita simak, dan saya kira ini penting. Beberapa saya petik.

Bagi Saut, ia lebih suka memakai istilah karya Wiyanta sebagai puisi rupa. Yaitu puisi rupa yang berkonotasi terdapatnya kesetaraan nilai antara teks puisi dan gambar visual pada medium di mana puisi tersebut kita baca atau dilihat. Teks puisi tidak menerangkan ilustrasi dan sebaliknya ilustrasi juga tidak menjelaskan teks puisi. Keduanya hadir berdiri sendiri tapi sekaligus tidak bisa dipisahkan. Keduanya menjadi satu tanda (sign) yang utuh. Bagi Sindhunata, kata-kata puisi itu tidak terlalu indah bila dibaca sebagai kata-kata, tapi bila disatukan dengan medium dimana puisi itu tertulis, terasalah keindahannya. Sindhunata tidak memberikan definisi soal gejala perupaan dan teks dalam karya Wiyanta, tapi baginya justru yang tidak dapat dinamai itulah sebuah “keindahan” dari “Rupa Puisi Rupa” Wiyanta.

Perihal Proses Kreatif Wiyanta : Dalam Pembacaan

Tanpa perlu tergesa apakah “bayi” dari dua pengucapan ini, adalah “anak kandung“ seni rupa kontemporer, terlebih lagi seni postmodern sekalipun, kita bisa menyelanya pada perlunya menduga : bagaimana “cerita” peleburan itu terjadi?

Menjawabnya bisa kita ikuti dari pembacaan yang dilakukan oleh Sindhunata dan saut Situmorang. Lewat suatu perbicangan santai yang diceritakannya pada tulisannya di katalogus, Sindhunata meminta langsung Wiyanta untuk mendemonstrasikan untuk membuat puisi rupanya dan seketika, jadilah sebuah karya on the spot: “Satu Rupa Satu Kalimat”, sebuah larik puisi yang di tulis pada wajah perupa, Arahmaiani. Bagi saya, Sindhunata memberikan kata kunci tentang ini yaitu perihal ekspresi. Baginya pelbagai kesan , pikiran dan perasaan tentang sesuatu harus segera diekspresikan pada saat itu oleh Wiyanta. Dengan demikian sembarang media dapat digunakan oleh Wiyanta : kertas toilet, tiket bis, sampul majalah, menjadi tempatnya menumpahkan segala yang ia tangkap dan ia pikirkan. Sementara Saut dalam pembacaanya terhadap karya seni Wiyanta ditinjaunya secara teoritis, ia menurunkan pemikiran Andre Breton yang memperkenalkan teori menulis puisi dengan spontan, yaitu sebuah proses menulis yang keseluruhannya dilakukan dengan spontan tanpa terlebih dulu memikirkan puitis atau tidaknya, bagus atau tidaknya, atau logis tidaknya tulisan ini bagi pembaca. Puisi Wiyanta mengekspresikan secara tekstual baris-baris sintaksis yang berkelebatan dalam ruang takkesadarannya yang dengan spontan dia rekam pada objek-temuan yang berada paling dekat dengan jangkauan tangganya.

Sesungguhnya bagaimana dengan objek-objek atau media-media yang dikumpulkan oleh Wiyanta kemudian? Bagi Sindhunata, benda-benda itu walaupun sudah mengandung nilai artistik, mengandung keindahan bagi seorang Wiyanta – dengan menggoreskan kata-katanya, ia tidak hanya menambah keindahannya, tapi lebih mentransformasikan benda-benda itu menjadi keindahan yang baru.

Puisi Rupa : Rupa Seni Rupa

Secara historis, Saut membandingkan puisi rupa Wiyanta dengan kiprah penyair visual seperti Puisi Apollinaire dalam judul “Turun Hujan” (ll pleut), dimana hurufnya seolah-olah jatuh menetes dari bagian atas halaman kertas menirukan rintik-rintik hujan. Bagi Saut, puisi-puisi itu merupakan sebuah pengaruh penting bagi para penyair visual di tahun 1950an. Saut mencontohkan pula, Piet Mondrian, Van Doesburg juga menerbitkan majalah De Stijl di tahun 1957 yang tidak hanya berisi karya seniman Avant Garde Belanda, tapi juga tulisan-tulisan dan puisi-puisi para seniman Dada Eropa lainnya seperti Schwitters, Hugo Ball, Tristan Tzara dan Hans haro, serta seniman Futuris Italia Fino Severnini dan komposer Amerika George Antheil. Cataan hisroris Ini memberitahu kita bagaimana seni rupa berekstensi dari medium konvensionalnya menuju ekplorasi puisi.

Perihal pembacaan yang dilakukan oleh Sindhunata dan Saut menarik di sini, mereka memperlihatkan sebuah interpretasi karya. Bagi saya, pada paparan perbandingan dengan sejarah puisi konkrit di satu sisi mewakili penjelasan wacana seni rupa dalam relasinya pada sebuah “bagan” taksonomi seni visual yang seringkali tercapkan sebagai tuturan modernis. Namun apa boleh buat, penanalogian ini memang memudahkan dalam merunut dan membaca dinamika wacana seni rupa, oleh karena kegamblanganya. Sementara Sindhunata memperlihatkan bagaimana secara filosofis perihal keindahan pada karya Wiyanta, dengan demikian modus penciptaan karya puisi rupa Wiyanta, paling tidak bisa terendus.

Nampaknya “pengucapan” Wiyanta dan begitu pula pada fenomena karya seni yang menyerentakkan teks dan visual menjadi penanda dari tidak cukupnya bahasa visual dalam merepresentasikan gagasan-gagasan abstrak seniman. Bagi saya ini merupakan medan bahasa alternatif yang menarik untuk ditelusuri, tidak sedikit para perupa yang “bermain” dengan mengkolase teks dan rupa. Soal “gaya baru” ini memang merupakan simplifikasi pembacaan, namun justru lewat model historiografi seni rupa modern yang linear itu, membucahkan pertanyaan kritis, sebutlah bila tidak ada lagi kebaruan, sebagaimana prinsip seni rupa modern, maka apa lagi yang tersisa? Dan bisa diharapkan? Kemana sesungguhnya Puisi Rupa Wiyanta “menginduk”? Di sini praktik seni rupa sepeti ini, bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Bagi saya, pada titik ini percakapan yang bersifat ekstra estetik bisa menjumpai relevansinya, paling tidak begitu seni rupa menemui jalan butunya, maka seni rupa kemudian bisa mempertanyakan pada dirinya sendiri : memeriksa ulang makna estetika hari ini? Apa arti dan fungsi karya seni rupa kemudian?

Fenomena rupa lewat karya I Made Wiyanta – sekali lagi menyiratkan seolah ranah seni rupa meronta ingin keluar “kandangnya”, seni rupa seperti ingin menggamit atau bahkan bersetubuh dengan “ranah-ranah” yang lain. Dalam hal ini praktik seni rupa yang tidak henti-hentinya bereksplorasi sebagai arena bermain, tentu sah saja . Hanya saja, bagaimana pada perangkat pembacaanya. Titik ini yang menjadi kegelisahan kita, persoalan perangkat pembacaan menjadi titik yang terabaikan. Dengan asumsi, bahwa jendela informasi global yang meruyak di Indonesia, melahirkan pula seni rupa dalam bentuk wacana dan praktik yang beragam. Atau dengan kata lain, kondisi ini juga runyam.

“Rupa Puisi Rupa” Wiyanta, memberikan daya provokasi pada kita, dan entah apa lagi yang di buat oleh perupa-perupa lainnya. Baik dengan kesadaran konseptualnya ataupun hanya untuk melampiaskan kegenitan eksentriknya. Celah yang tersembul dari kemelut wacana pasar dan pasar wacana yang melelahkan itu, bagi saya semestinya bisa segera mengalirkan aliran pemikiran yang lebih jernih dalam mengurai “benang kusut” seni rupa sekarang ini, paling tidak bergerak menuju dinamika tafsir dan telaah yang lebih dalam.

Advertisements

About this entry