[Art Review]Membongkar Erotisme Melukis lewat Kritik diri

Ilusi dalam lukisan Gouche Nindityo :
Membongkar Erotisme Melukis lewat Kritik diri

Oleh: A. Sudjud Dartanto

Kali ini Nindityo membuka ‘kebohongan’nya sendiri dalam melukis. Sebuah kritik diri, visualitasnya menggunakan teknik gouche, dan ikon konde seperti biasa – masih ajeg Ia gunakan.

Di kesenyapan, tubuh itu duduk menyamping, dilekatkan dengan konde berbentuk melingkar tepat diantara selangkangnya, wajahnya pun tertutup dengan sanggul, karya ini berjudul I Love My Passion (52 x 72 cm, 2001). Satu karyanya ini menyiratkan karya-karyanya lainnya, seperti pada Passion and The Burden (52 x 36 cm, 2001), nampak tubuh yang berpose menunduk horisontal, dua tangannya kebelakang, sementara seonggok konde membungkam mulutnya dan dadanya terlingkari BH. Tubuh itu adalah figurasi tubuh Nindityo sendiri. Adapun idiom konde baginya melambangkan gairah dan nafsu yang bagi Nindityo saling bergantian posisinya dalam berbagai konteks.

Dua karya diatas adalah dua diantara 24 lukisan gouche-nya pada dinding ruang galeri Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta yang dipamerkan dari tanggal 28 Januari sampai 15 Februari 2002 dalam tema Kenapa Melukis, Bohong. Tidak berlebihan bila karya-karya yang terbingkai dalam frame kaca itu istimewa bagi Nindityo, karena perupa kontemporer Yogyakarta ini memang sengaja menyajikan bentuk lukisan sebagai pameran tunggalnya kedua diantara sekian banyak karya kolaborasinya. Bagi Nindit, sajian lukisan yang dikerjakan satu setengah tahun ini adalah bentuk uji coba pengalamannya melukis. “melukis itu adalah pekerjaan yang individual, membutuhkan ruang yang otonom, berbeda dengan karya kolaborasi saya”, katanya. Ia sadar melukis bersifat asosial, suatu kerja berbeda kala ia membuat karya instalasinya.

Perupa yang juga pemilik Cemeti Art House ini memang mengetengahkan ‘misteri’ kegiatan melukis, plus pesona kebohongan didalamnya. “Kadang hasil jadi dan konsep sebuah lukisan saya, bergeser jauh dari gagasan awal”, tandasnya. Ia mencontohkan pada I Love My Passion, lukisan itu awalnya ingin bernarasi sinisme terhadap konde, namun pada proses terakhir ternyata berubah. “Hampir sekitar 20-an lukisan yang dipamerkan terjadi hal seperti itu”, jelasnya. Kebohongan ini baginya adalah kritik diri yang mendasari Nindityo dalam mengolah bahasa tubuh, posisi konde dan pernik ikon-ikon lainnya dalam lukisannya.

Dengan kasat mata, figur-figur dalam lukisannya itu hadir dalam berbagai posisi dan kesan, seperti duduk, jongkok, adegan menaikkan pinggul, kepala menunduk, sikap berdoa, dan lain-lain . Dan sesekali nampak atribut BH pada figur yang ia gambar, seperti pada The Man is Loosing My Passion (72 x 52 cm,2001). Proses lahirnya berbagai figur itu diawalinya dengan Pembuatan rekaman gambar dengan cara memotretnya dirinya sendiri dalam berbagai pose . “Setelah hasilnya jadi, saya melakukan pembacaan dan pemaknaan untuk lukisan saya”, jelasnya. Lukisan perupa asal Semarang ini menggunakan teknik Gouche, uniknya, teknik ini memang melepaskan citra artistik yang enak dipandang. Efek lelehan cat, dan kesan kabur (blur) seperti memvisualkan gambar abstrak dalam gaya figuratif. Teknik Gouche sebetulnya bukanlah teknik baru dalam lukisan, teknik ini memakai cat buram (opaque) yang digunakan dalam keadaan kental, tapi penggunaanya diterapkan layaknya memakai cat akuarel dengan butir-butir warnanya yang halus. Ditengah kuatnya semburan spotlight kuning dalam ruang galeri itu, warna lukisan Nindityo nampak bersaing untuk menampakkan citra warna lukisannya. Kontur awal yang merupakan sketsa figur-figur dalam lukisannya nampak kentara dengan halus. Aksen ini seperti menyatu dengan elemen visual lainnya dan menambah efek artistik dalam karyanya.

Bisa diberi pendapat, figur dalam berbagai pose yang digambar berikut konde dan atribut lainnya tentunya tidak sekonyong-konyong ada begitu saja. Ia kita anggap mempunyai makna-makna personal dibalik ungkapan ikon-ikon dalam lukisannya. Bila demikian lukisan Nindityo adalah bentuk pelukisan representasional. Ia membawa nilai diluar segi pertimbangan formalis (kebentukan) lukisannya semata. Desakan ide soal pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa’ ia melukis ? berikut cerita kebohongan menjadi pertimbangan diluar segi formalis karyanya.

Bisa kita lihat dalam karya Nindit, bukan semata the how (bagaimana melukisnya) tapi sekaligus the what (apa yang dilukisnya). Dijelaskan sedikit, pandangan non-representasional dan representasional memang acapkali menjadi perdebatan dalam seni rupa. Yang satu, menganggap nonsens adanya nilai diluar karya seni (non-representasional) dan satu lagi menggangap ada nilai ekstra selain segi formalis sebuah karya seni (representasional). Kita bisa cermati bahwa lukisan Nindit memunculkan berulang-ulang ikon tubuh, konde, ikon produk modern yang nyaris ada ditiap lukisannya. Kemunculan ikon-ikon itu pada segi pertandaan bisa dianggap sebagai sebuah representasi dari ‘sesuatu’. Sebagai simbol yang kerap muncul dalam baik pada karya instalasinya hingga lukisannya, konde pada pameran ini bermakna nafsu dan gairah. “Konde juga berarti jembatan bagi publik untuk berdialog dengan karya saya”, tandasnya.

Sering diungkap bahwa lukisan adalah juga ilusi seniman dalam mengandaikan sesuatu. Bidang dua dimensi ini kadang ingin menampilkan efek tiga dimensi. Dalam visualitasnya nampak, Nindit mempertimbangakan segi anatomi tubuh dengan hati-hati agar tercipta efek tiga dimensi. Contoh ilusi ini tentunya menggambarkan sebuah gambar imajinasi Nindit tentang ide-idenya, sebuah abstraksi yang ingin dikonkritkan, atau abstraksi yang kembali menjadi abstraksi lain. Konde, simbol tradisi jawa, tubuh yang anonim, dan atribut ikon lainnya melemparkan berbagai nilai dan makna yang boleh kita persepsi bebas. Dalam pameran ini, Nindit menawarkan sebuah kritik diri (self critic) . Ia membongkar secara polisemi anggapannya tentang erotisme melukis dan ‘kebenaran dalam lukisan’ juga mitos konde . Nindit boleh saja gelisah dalam menggugat kegiatan melukisnya, namun semestinya Nindit juga bisa memberikan lebih kekayaan visualitasnya , sesekali boleh jadi ia memutar kacamatanya tentang pandangannya yang tidak harus dengan simbol-simbol ajeg yang sering ia pakai. Pameran ini seolah menginterupsi proses kreatif melukis, karena didalamnya bagi Nindityo ada kebohongan, seringkali kita luput untuk mengamati proses kreatif melukis, disinilah pembacaan kritis Nindityo yang berguna bagi kita.

Advertisements

About this entry