[Art Review]Membaca ‘Seni Rupa’ di dunia Dotcom

Oleh: A. Sudjud Dartanto

Perjumpaan internet dan dunia seni memunculkan karya, aktivitas dan infrastruktur seni yang mengundang pengalaman dan pemahaman baru.

Sebagaimana umumnya diketahui bahwa obyek seni nyata seperti lukisan, dan patung dikenali secara mudah dengan cara diraba dan dilihat volume bendanya. Tetapi bagaimana dengan wujud obyek seni rupa di internet? Sesuai dengan sifat internet maka obyek seni rupa di internet dihadirkan dari keadaan online atau terhubung dengan modem. Dalam pandangan tertentu, sulit memang untuk menyatakan apakah obyek seni di internet tersebut dikatakan maya seutuhnya dalam batasan tidak nyata? Karena bila ia didekati dan diamati dengan jelas ia juga dimengerti akan kekonkritanya, keutuhanya secara nyata dilayar monitor.

Wujud obyek seni internet itu tak ubahnya seperti obyek karya yang dibuat dari bahan atau media lewat keterampilan tangan. Hanya bedanya obyek seni internet tersebut dilahirkan dari berbagai teknologi manipulasi visual antara lain seperti photoshop, coreldraw, flash dari macromedia, 3DMax, VRML(Virtual Reality Modelling language) secara digital mampu membuat suatu obyek seni mencapai bentuk asli, tiruan, atau tiruan atas tiruan. Kehadiran obyek seni yang dimunculkan oleh internet ini, tak bisa dihindari menuntut pengalaman dan pembacaan baru. Sementara disisi lain teknologi ini juga malahirkan kesadaran baru akan inspirasi dan kreativitas. Yang berarti terjadi juga adalah fragmentasi pelbagai konsep dan penciptaan karya seni baru dan terus menerus .

Bila aktivitas dan proses komunikasi kesenian didunia nyata memerlukan kehadiran pengalaman fisik. Maka di internet terjadi sebaliknya. Internet meniadakan kontak fisik, segala komunikasi dan interaksinya cukup diwakili antara lain oleh tombol keyboard, mouse dan modem. Komunikasi lantas berjalan secara interaktif tanpa mengenal batas teritori, jender, dan strata. Seorang perupa dan siapapun dapat melakukan komunikasi, presentasi secara interaktif tanpa lewat perantara. Seorang seniman dapat melakukan kontak dan pertemuan dengan seniman lain yang jaraknya ribuan kilometer dalam waktu yang singkat. Ia dapat berpameran kapan saja, membuat event apa saja secara online.

Ada contoh aktual misalnya pada situs http://surf.to/on(e)line, di situ pernah terjadi diskusi interaktif yang diikuti lima lembaga seni di lima negara. Semua partisipan dengan mudah berdiskusi lewat program chat dan memamerkan karya video art-nya secara bergantian situs tersebut. Fenomena komunikasi seni ala cyber ini terlihat juga pada timbulnya komunitas komunikasi dan informasi seni online. Seperti yang dikembangkan oleh Amir sidharta, kurator museum Pelita Harapan Jakarta . Ia mengelola diskusi seni rupa online lewat mailing list (lintaseni@egroups.com), dan yang aktual belakangan ini adalah Aikon@egroups.com, sebuah mailing list yang dikelola oleh Aikon. Proses komunikasi ini mudah dan cepat, yaitu bila ingin menyapaikan pesan, cukup mengirim surat(e-mail) ke alamat itu yang kemudian akan didistribusikan ke puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan alamat anggota milist itu secara sporadis oleh moderator. Demikian juga komunitas komunikasi lainnya yang tak terhitung lagi jumlah dan topiknya diinternet.

Saat tulisan ini dibuat, telah dikembangkan bentuk komunikasi online dengan fasiltas webcamera. Teknologi ini memungkinkan pembicara satu sama lain bisa saling terlihat dilayar monitor. Bagaimana dengan infrastruktur seni di internet? Karena dunia internet, hanya berbentuk teks dan visual. Maka ini artinya internet adalah ruang yang mengosongkan kehadiran fisik. .Bangunan yang ada hanya tersusun dari himpunan bit-bit yang berkembang menjadi lanskap baru. Namun bisa dianggap bahwa i infrastruktur internet juga bisa dikatakan sama persis dengan infrastruktur yang ada didunia nyata. Beberapa situs diiintenet sebagai infrastruktur virtual juga mempunyai karakter, fungsi dan menjalankan praktik seperti infrastruktur fisik kesenian nyata. Misalnya padai hadirnya galeri, museum, artshop, pendidikan seni virtual, seperti pada situs http://www.artmuseum.com,www.indoartgallery.com, dan lain-lain.

Seperti didunia nyata, misalnya di indoartgallery.com, situs tersebut berfungsi untuk memamerkan karya seni. Ada pengantar dari pengelola atau kurator dilembaga virtual tersebut. Pada kemungkinan lain, Internet juga memungkinkan setiap seniman membuat situs personal. Seniman bisa merancang dirinya dan karyanya dalam citra atau imej apapun yang kapan saja bisa dirubah . Misalnya pelukis mantra di alamat http://www.artmantra.com, bila kita mengunjungi situs tersebut, kita bisa menikmati baik karya duplikat lukisannya dan juga karya digital-art nya. Dan nampaknya Ia rajin untuk men-up-date situsnya sehingga sehingga selalu tampil dengan identitas baru. Berikutnya juga sejumlah perupa lainnya yang memanfaatkan fasilitas website ini seperti Erica Hestu (www.arterica.com), Tiarma D sirait di http://www.geocities.com/~1234.

Estetika, orisinalitas dan jenis obyek seni internet

‘Perselingkuhan’ internet dan seni (rupa) misalnya memunculkan pertanyaan sekaligus pernyataan baru. Estetika apakah yang tepat untuk menamai obyek-obyek seni di internet tersebut? Apakah ia lantas disebut estetika cyber atau estetika online ? Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana kemudian mengenai keaslian atau orisinalitas penciptaan sebuah karya seni di internet? Bila pada karya seni pada tradisi seni nyata, hal-hal seperti copyright, sertifikasi menjadi poin penting dalam menjamin keaslian sebuah karya seni. Bagaimana lalu hasil penciptaan seni di internet, bukankah setiap tampilan visual diintrenet, begitu mudahnya untuk dikopi hanya dengan hanya men’klik’ menu save as. Internet sebagai wacana berlangsungnya kesenian, ternyata memunculkan predikat dan istilah bagi peseni internet ini. Ini dapat dijumpai pada statement, manifesto dan ulasan di berbagai jurnal dan katalog seni rupa internasional, misalnya webartist, netartist, online artist. Dalam media cetak itu diterangkan bahwa predikat tersebut disandang bagi seniman yang mengolah fasilitas internet lewat format dan program misalnya html, flash, IRC, dan lain-lain secara kreatif. Ini masih ditambah dengan fenomena munculnya klaim atas aliran seni online ini misalnya web art yang dengan sendirinya memunculkan seniman dengan sebutan webartist.

Fenomena berikutnya adalah munculnya istilah virtual untuk setiap obyek seni yang umum dikenal misalnya virtual ceramic, virtual painting, dan lain-lain. Di forum ‘offline’ pun aktivitas seni online ini mendapatkan tempatnya (nyata) diforum prestisius, seperti Asia Pasific Triennale. Karena tidak seperti triennale sebelumnya, Triennale yang terakhir , Beyond the Future, memamerkan eksplorasi seni internet ini . Seperti tak cukup dengan itu, ada pula lembaga yang secara khusus mengakomodasi setiap perkembangan seni yang dimungkinkan oleh internet yaitu MAAP, Multimedia Arts Asia Pasific online arts. Sedangkan di Indonesia sendiri kemunculan seni di internet ini , ditandai dengan pameran yang bertajuk ‘WEBART” yang melibatkan seniman luar negeri dan seniman Indonesia. Pameran itu sendiri berlangsung dii galeri Soemardja ITB.

Pembacaan fenomena atas berlangsunya aktivitas kesenian di internet, bisa dengan jelas terbaca. Mengutip pandangan Yasraf A.P, sehubungan dengan fenomena tersebut bahwa perkembangan dunia baru(cyberspace) tersebut mengubah pengertian kita tentang masyarakat, komunitas, komunikasi, interaksi sosial serta budaya. Disisi lain juga, membicarakan teknologi juga pararel dengan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan didalamnya. Yang artinya penciptaan karya seni berlomba dengan pertumbuhan, perkembangan teknologi ini(internet) tersebut. Pertanyaan yang bisa kemudian muncul yaitu siapakah yang berada digaris depan perkembangan ini?

Apakah Ia yang menentukan wajah peradaban dan kesenian mendatang ? Atau memang sudah saatnya sekarang ini untuk mengevaluasi dan merivisi agenda kesenian dan berkesenian kita selama ini? Yang jelas sekian pertanyaan dan pernyataan ini adalah hanya muncul sedikit dari kompleksnya wajah realitas kontemporer seperti sekarang. Termasuk ‘perselingkuhan’ bidang seni dan internet yang nyatanya membuat kita memikirkan ulang hakekat berkesenian dan kesenian.

Tulisan ini pernah diterbitkan di newsletter Surat YSC (Yayasan Seni Cemeti).

Advertisements

About this entry