[Art Review]Ironi Keindahan : Blues masa kini

Pameran Tunggal Agus Suwage
BEAUTIFY
Cemeti Art House, 8 – 29 April 2001

Selain indah adalah yang manis dan cantik – indah juga ada di kekacauan, kebusukan. Kali ini Agus Suwage membuat keindahan itu menjadi lebih cantik. Inilah ironi keindahan masa kini, karya Agus ini adalah kritik untuk kecenderungan budaya sekarang.

Bila masuk ke ruang pamer Rumah Seni Cemeti ini nampak nuansa elok tak dapat ditampik. Ada karya-karya dua dan tiga dimensi disini yang sudah dimodifikasi oleh Agus. Seperti tema pameran tunggalnya yang 12 ini di Rumah Seni Cemeti Yogykarta “Beautify”. Bagi Agus keindahan sangat relatif pengertiannya tergantung oleh sudut pandang. Selain indah dalam pengertian memperindah di salon kecantikan, memperindah interior ruangan, indah juga tersirat dalam kekerasan , kekejaman hingga kebusukan.

Karya perupa yang tahun 2000 kemarin berpameran di Museum of Mexico City ini menyajikan 3 lukisan di antara karya 3 dimensionalnya yang lain. Seperti Impermanance Landscape (2001,oil on canvas, 145 x 725 cm), sebuah lukisan dari gagasan tentang kota tua ribuah tahun sebelum masehi dipulau kreta. Disitu ada teks kalimat yang ditulis dari belakang, seperti inferno (neraka), paradiso(surga). Lukisan dengan warna dominan emas ini, menunjukkan 3 figur dan satu kepala dalam sikap meditatif. “ Semua menurut aku tidak ada yang permanen dalam kebudayaan dan absolut dalam keindahan.” Berikutnya adalah Lautan Tanda (2001,Oil On Canvas, 135 x 135 cm), lukisan ini diantara warna dominan hijau dan biru pekat, ditengahnya nampak figur orang duduk sambil mengayuh dilaut.

Bukan ombak disekitarnya, namun sejumlah batu-batu dalam komposisi yang indah. “Aku terpengaruh wacana modern seperti pada permbincangan tanda-tanda, batu-batu indah kalau ditata menjadi suatu konstelasi. Ini adalah usaha mempercantik dari yang sudah cantik.” Agus juga perupa yang menggemari musik Blues, nampaknya ini terlihat pada Blues for Allah(2001,oil on canvas, 135 x 135 cm). Judul lukisan ini dicomotnya dari judul lagi kelompok musik barat Gratefull Dead, ”Aku menyukuri hidup.” Katanya. Ini terlihat dilukisannya sosok figur yang mengenadah tanganya pada alam semesta not balok didepannya.

Karya tiga dimensionalnya tak urung menambah kesan keelokan tema Beautify. Seperti Perjalanan Tamat (2001, Pigskull, Letaher, Roller Skate, Wood). Satu karya ini, mangambil keindahan dalam ketidakindahan. Nampak 6 kepala babi dengan gaya meluncur bersama sepatu roda dibawahnya. “ Ini agak dekat dengan perjalanan, suatu kekekalan itu berakhir. Bagi Agus Kekejaman itu bisa menjadi eksotik, saat ditanya sehubungan dengan satu karyanya ini. Agus juga dikenal sering memakai figur dirinya sendiri pada karya-karyanya, ini terlihat pada The most Educated Parasite (2000, Antique Wood, Cupboard, Books, Chorcoal on Wood), “Wajahku seperti intelektual yang terperangkap.” Memang nampak drawing Agus berjongkok didepan banyak buku dan katalog pameran, teori dan lain-lain pada lemari tua antik. Becak, kendaraan tradisonal daerah negara timur memang efektif sebagai alat transportasi. Kendaraan ini dipercantik lagi oleh Agus dengan mencelupkan pada larutan Crhom, menggambarinya dan memberikan 60-an buah semangka sebagai penumpangnya.

Karya berjudul Ojo Gumun, Ojo Dumeh ini menjadi istimewa karena modikasinya ini. Misalnya pada teks disamping becak Ojo Gumen berarti yang wajar saja. Disitu ada figur Agus sedang membuka mata semntara satunya lagi membuka telinga, ”Saya mendengar apa yang tidak saya dengar dan melihat apa yang tidak saya lihat”. Sebuah falsafah Budha dan Jawa yang dipetiknya. Judul Me, I, My ,Mine, Self (2000, Alumunium), adalah karyanya yang tampil denga kesan mewah. Karena lapisan alumunium itu mengkilat dengan warna perak. “ Karya saya ini adalah usaha belajar mengenali diri sendiri karena kita sebagai manusia punya ego yang besar.”

Sejumlah karya-karya pada perupa yang pernah mendapat residensi di “Sai-no-kuni”, Saitama, The Museum of Modern Art. Suitama Jepang ini adalah satu perjalanan kesenimannya. Kali ini ia sengaja bermain memoles benda-benda menjadi lebih cantik, sekaligus mengemukakan kekritisannya dalam membaca kebudayaan sekarang yang seringkali penuh polesan dan ambiguitas.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah “Vihicle” Singapura.

Advertisements

About this entry