[Art Review]Dilema Pencitraan dalam Fotografi Jurnalistik

Catatan pameran Foto PFI “MURKA”
Bentara Budaya Yogyakarta

Oleh: A. Sudjud Dartanto

Puluhan foto karya fotografer berbagai media ini seolah mengembalikan memori kolektif kita tentang tragedi dan peristiwa nasional kemarin. Citra realitas subyektif atau obyektif?

Pada Kepalan Tangan Untuk Amerika, nampak lautan demonstran terlihat memekik geram sambil membentangkan spanduk anti Amerika. Foto ini hasil jepretan Dwi Oblo Prasetyo, fotografer free lance, pada 12 Oktober 2001 dalam sebuah aksi protes serangan Amerika Serikat terhadap Afganistan. Aksi mahasiswa juga terlihat pada karyanya, Potret Dua Orator, tentang sosok heroik perempuan dari Forum Perjuangan Pemuda Yogyakarta, yang berorasi lewat megaphone, sambil mengepal kuat tangan kanannya keatas disamping foto ‘bung besar’ Sukarno. Senada dengan potret itu, nampak mahasiswa terkunci oleh kepungan beberapa orang beringas, dalam peristiwa pembebasan tanah di Kulunprogo Yogyakarta, karya Pamungkas Wahyu Setianto, fotografer harian Radar Yogya. Itulah antara lain beberapa hasil jepretan 12 wartawan cetak dan elektronik di Bentara Budaya Yogyakarta, sebuah pameran foto yang berlangsung dari tanggal 27 sampai 29 Desember 2001.

Pameran ini mengundang empati kita dalam merasakan peristiwa bencana alam, kekerasan massa, dan peristiwa lainnya. Misalnya, kita dapat merasakan potret miris Ponirah, nenek yang terbenam lumpur akibat longsor tanah di Kulonprogo November 2001, karya Himawan, fotografer harian Bernas. Foto menyentuh lainnya karya Himawan yang menggambarkan seorang Ibu dengan terpaksa menciduk air berlumut dan penuh lalat di telaga Gandok Dusun, Gunung Kidul untuk keperluan masak, cuci dan minum.

Bagi penyelenggara tema Murka, adalah metofora untuk melukiskan amarah manusia dan alam. Pameran ini menampilkan 53 Foto dari peristiwa demonstrasi, hingga bencana alam . Ajang ini adalah bentuk eksistensi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta yang berdiri 10 Novemebr 2001 lalu.

Citra dalam fotografi jurnalistik

Ada sense tertentu bila kita mengamati hasil potret ini, pertama, ia membangunkan memori masa lalu kita. Kedua, kita dapat menelusuri angle atau sudut pandang si juru foto, karena sudut pandang peristiwa atau momen tertentu tentu berbeda bagi siapa saja, termasuk sudut pandang para fotografer ini. Perbedaan sudut pandang inilah yang menarik dalam pameran ini. Misalnya, mengapa Himawan mengambil angle ibu pencari air itu dikontraskan dengan ribuan lalat? Atau mengapa Oblo memilih momen tangan mengepal dari aktivis perempuan ketimbang angle yang lain? Pertimbangan ini tidak lepas dari cara seseorang memahami peristiwa, terutama dalam pameran ini adalah pada segi pertimbangan jurnalistik. Sebagai berita visual, fotografi jurnalistik juga konon mampu mewakili ribuan kata. Disinilah arti penting fotografi jurnalistik sebagai citra yang berpengaruh.

Kekhasan bidang fotografi terletak pada alat bantu utamanya yaitu kamera berikut prosesnya. Sejak ditemukannya, camera obscura memang diharapkan untuk merekam realitas secara persis. Cikal kelahirannya antara lain dilatari keinginan pelukis untuk membuat gambar yang realis. Susan Sontag dalam In Plato’s Cave mengatakan bahwa fotografi seperti halnya lukisan, gambar dan tulisan adalah interpretasi dunia. Dulu kamera disambut baik oleh karena ketepatanya merekam realitas secara statis, namun pada perkembangan wacana, nampak ada perdebatan tentang realitas yang diabadikan. Kata kuncinya adalah fotografi bukan lagi mimetik atau tiruan dari realitas tapi hasil karya foto seperti yang dikatakan Susan Sontag adalah bentuk interpretasi dunia.

Dilain hal, secara unik pameran ini memang hasil kreasi insan jurnalistik, berbeda dengan fotografi seni, yang tentunya ada pertimbangan segi estetik untuk mencapai kualitas karya yang personal.

Berangkat dari realitas konkrit: membangun citra

Fotografi jurnalistik memang berangkat dari realitas konkrit. Fotografer juga bekerja pada dimensi citra. Citra disini memegang peranan kuat dalam zaman yang disebut Milan Kundera sebagai era imagologi. Misalnya, bagaimana kita bisa bersimpati pada gerakan mahasiswa, antara lain disebabkan oleh kuatnya citra foto yang dibangun oleh fotografer dan termuat di berbagai media massa . Empati internasional pun terbangun ketika melihat foto para new yorker berlarian dengan latar kepulan pekat asap hitam gedung WTC yang ditabrak. Atau pada foto yang bertebaran di internet misalnya, yang membuat miris perasaan siapa saja kala melihat kepala copot dari badan di kerusuhan rasial di Sampit, Kalimantan. Citra dalam hal ini sanggup untuk membangkitkan empati atau bahkan anti pati.

Bagi Susan Sontag fotografi can affect social and moral action and condition. Pendapat ini bisa dipakai untuk memahami bahwa penentu citra antara lain ditangan para fotografer ini, dari jepretan merekalah informasi visual kita dapatkan. Hanya saja, perdebatan yang seringkali muncul adalah apakah foto-foto itu berdasarkan realitas obyektif atau hanya sebuah bentuk tafsir dari juru potretnya (subyektif). Bagi fotografer Oscar Matulloh dalam wawancara di Dialog Seni Kita UNISI FM, fotografi jurnalistik memang subyektif. Oscar juga mengkaitkan segi moralitas dalam fotografi jurnalistik. misalnya pernah ada fotografer Indonesia yang memberi catatan pada karya fotonya tentang kekerasan di Kalimantan agar jangan dipublikasikan oleh pertimbangan bahwa korbannya juga sesamanya sebagai orang Indonesia. Atau pemenang pullitzer, Kevin Carter yang mendapat kecaman keras pada hasil jepretanya yang kontroversial, yaitu tentang bocah Sudan yeng mencari makan dengan seekor burung Nazar (burung pemakan bangkai) yang seolah siap memangsanya. Carter akhirnya bunuh diri. Contoh ini bagi Oscar menyatakan tentang suatu keberpihakan moral fotografer. Disisi lain dua contoh ini juga menyiratkan betapa kuatnya pengaruh citra dalam fotografi pada persepsi publik yang dicitrakan foto. Seperti citra simpatik yang segara muncul pada foto mahasiswa berpelukan dengan latar pidato pengunduran diri Suharto di berbagai media kemarin.

Pencitraan dalam karya foto jurnalistik dilematis. Pertama, juru protret mempunyai keinginan untuk menampilkan kenyataan secara utuh, sementara disisi lain, kenyataan yang ia tangkap tak lepas dari banyak pertimbangan mulai hal teknis hingga idealisasi. Ini sama halnya dengan film dokumenter ataupun rekaman video untuk komsumsi berita TV. Dalam sajian foto yang diperlihatkan pada pameran MURKA, nampaknya lebih banyak menyuruk pada peristiwa besar. Walaupun sebenarnya ada banyak sisi kehidupan sehari-hari dan sepele yang juga menyentuh sisi kemanusiaan.

Tulisan ini pernah diterbitkan di newsletter Surat YSC (Yayasan Seni Cemeti).

Advertisements

About this entry